Hari itu sangat mendung bagi Iva. Ia tak pernah menyangka bahwa malapetaka ini akan datang begitu cepat. Mungkin keterlaluan kalau menyebut ini malapetaka jika ia memang bisa disebut takdir. Tapi bagi Iva, apapun itu namanya, dunianya sudah berbalik 180 derajat sekarang. Kehidupan yang dilaluinya tak kan lagi seindah kemarin. Bahkan ia sendiri tak berani membayangkannya. Ia shok. Begitu shok. Antara marah, benci, dan sedih. Namun pantaskah ia marah? Pada siapa? Tuhan? Karena Ia terlalu kejam padanya?***“Iva, kami turut berduka cita atas meninggalnya adikmu,” kata Bara, ketua kelas mereka. Ia dan kawan-kawannya sudah mencoba menghibur Iva dengan berbagai cara. Namun rupanya cara itu tak ampuh. Tak satu pun kata yang keluar dari bibir gadis itu. Iva diam seribu bahasa. Hanya senyuman kakunya yang menandakan bahwa ia masih mendengar.“Iva, bicaralah. Kami sudah rindu suaramu yang merdu,” bujuk Syahrani yang sedari tadi gusar karena Iva tak acuh.“Pssst, jangan dipaksa. Ia masih sedih.”“Tapi Inez, dari tadi ia mematung terus. Kalau nanti sampai kesurupan gimana?”“Satu-satunya setan yang bisa buat dia kesurupan itu cuma kamu. Makanya diam.”Syahrani manyun dikatai seperti itu. Dikepalkannya tangan seolah akan menjitak kepala Inez, yang kemudian berpaling pada Iva.“Iva, kami nggak akan ganggu kamu lagi, deh.” Inez coba mendekati Iva.“Tapi kalau kamu butuh apa-apa atau mau bilang apa-apa ngomong aja ke kita. We’ll be right here waiting for you!” Mimik wajah Inez begitu serius saat mengatakannya. Seolah ia adalah seorang bodyguard yang akan selalu setia pada sang majikan dengan sumpahnya. Iva hanya memandang sekilas. “Atau kamu pengen si Rani goyang hula-hula?” Masih dengan raut yang sama, membuat Syahrani tidak puas jika tidak benar-benar melayangkan kepalannya. Iva sedikit tersenyum. Walau hanya dalam hati. Bibirnya benar-benar tidak bisa digerakkan sama sekali. Pastilah ia telah menjadi seorang ratu drama kali ini. Ah, ia terlalu kejam pada teman-temannya.
Read more :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar